Tenun Kata

Jika kata bukan lah hujan untuk tanah, sudah pasti itu hanya kuburan yang pindah tempat

Sinyal Rektor Undana

1 Comment


Sinyal Rektor Undana

Oleh: Dominggus Elcid Li*

Ketika HP (Handphone) masih jadi barang baru beberapa tahun silam ada humor kering begini. “HP sudah ada Bapa, tapi tidak ada sinyal nanti…” Lalu dijawab Paitua, “Baik anak, kalau begitu tolong beli sinyal sekalian biar kita bisa pakai kontak kamu…”

Humor ini sepintas sepele, tetapi menggambarkan kondisi ‘orang kita’ memahami barang-barang moderen dalam ruang imajinasinya–termasuk dalam melihat pendidikan. Kekaguman kita terhadap ‘orang terdidik’ tiba di parade gelar. Contohnya gemar sekali orang kita ‘membeli’ gelar, dan dipasang di belakang/depan nama. Apakah proses kritis itu benar-benar dipelajari seiring dengan itu kita tidak pernah tahu. Dikatakan sebagai proses kritis karena usaha berpikir benar tidak berhenti di satu titik, misalnya ditandai dengan ‘Dr.’ atau ‘M.Sc.’atau ‘M.Si.’ Perolehan gelar dalam logika ‘orang barat’ memang menandai sebuah pencapaian, tetapi ini dimengerti sebagai ‘proses latihan’ yang dibimbing dan bukan titik akhir.

Sinyal kritis
Di tempat kita perolehan gelar seolah menjadi penanda final, dan seolah-olah sinyal kritis itu sudah diperoleh dengan menulis gelar/memperoleh ijazah. Kondisi ini tercermin dalam situasi di kampus. Perdebatan egaliter yang seharusnya terjadi di dalam universitas malah diturunkan dalam logika senioritas. Senioritas diadopsi dari tradisi kita, yang mungkin diambil tanpa mau tahu bagaimana para kepala suku berdialog dengan para penasehatnya.

Meskipun didasarkan pada pola senioritas, hubungan ‘kepala suku’ dengan para tetua adat lain itu tidak hanya menunjukkan hubungan horizontal diantara dia dan pemangku adat lain dalam civitas suku tersebut, tetapi melekat hubungannya dengan pencipta. Elemen vertikal ini ada. Bagaimana proses ‘tua adat’ mencapai ‘kebijakan’ bersama-sama yang menandai kepentingan bersama ini tidak dimengerti ‘orang moderen’ yang ditandai dengan gelar hasil kuliah dalam dialog di dalam kampus yang merupakan institusi serapan: institusi moderen.

Contohnya jika kondisi rapat senat sebuah universitas amat minim dengan dialog yang kaya beragam perspektif kritis, tetapi seluruh komunitas seolah terperangkap dalam jalan buntu. Maka apa yang sedang terjadi? Kondisi ini tercermin dari dalil-dalil normatif yang dilontarkan juru bicara universitas ketika ditanya wartawan. Misalnya: ‘semuanya sudah sesuai peraturan’ atau ‘sesuai dengan mekanisme internal’. Tanpa berusaha berdialog. Apalagi melihat isi kritik yang terletak dalam pertanyaan.

Sebagai bahan perbandingan, warga Undana bisa menggunakan mesin pencari (google) untuk membandingkan praktek pemilihan rektor Undana dan IPB (Institut Pertanian Bogor). Klik di sini: http://ppr.ipb.ac.id/ dan bisa dilihat bagaimana pemilihan rektor dikerjakan di tempat lain. Setidaknya proses pendaftarannya tidak mepet seperti yang dilakukan Undana kali ini (Pos Kupang, 10/6/2009). Pemungutan suaranya pun tidak dilakukan langsung oleh MWA, tetapi melalui seleksi administrasi, pembobotan bakal calon, uji kelayakan/kepantasan, sosialisasi profil/visi/misi/program kerja calon rektor, dan debat publik. Jadi ‘ruang publik’ itu tidak serta merta dikecilkan dalam tangan para anggota senat atau Majelis Wali Amanat (MWA).
Kategori pembobotan dan hasil pejurian para calon pun bisa dibuka dengan transparan, dan bisa diakses siapa saja. Di IPB kriteria pembobotan itu dibagi dalam 7 hal: (1) pengalaman dan masa kerja (10%), (2) pengalaman Memimpin (30%), (3) pengalaman berwirausaha (15%), (4) penghargaan yang pernah diperoleh (10%), (5) simposium/seminar/workshop/karya ilmiah/buku (10%), (6) kerjasama yang pernah dikembangkan (15%), dan (7) makalah singkat mengenai pemikiran untuk memajukan institusi (10%).
Di Undana kriteria calon rektor dibikin ‘amat sederhana’. Acuannya Permendiknas No. 67/2008 dan ‘dituangkan’ dalam Keputusan Ketua Senat Undana No 01/KKS/UNDANA/2009 (Pos Kupang, 10/6/2009). Kriterianya: 1) beriman dan bertakwa; 2) Maksimum 61 tahun; 3) Jabatan terendah lektor kepala; 4) terendah berpendidikan S-2, dan 5) bersedia dicalonkan. Ditambah dengan: (1)sehat jasmani/rohani, (2) mampu berbahasa Inggris, (3) dan bersedia menyampaikan program kerja.
Sepintas proses pemilihan rektor Undana dilakukan ‘amat tertutup’. Pemaparan program kerja para calon rektor dilakukan ‘di antara mereka saja’ (baca: di hadapan rapat senat khusus yang sifatnya tertutup). Elemen lain di dalam Universitas yang tidak termasuk dalam ‘dewan adat’ universitas tidak dilibatkan. Di IPB proses ini dilakukan melibatkan publik, lewat dua hal: ‘debat publik’ dan ‘uji penerimaan publik’. Untuk ‘uji penerimaan publik’, sosialisasi dilaksanakan oleh tim yang dibentuk para calon rektor, dan penerimaan publik diukur dengan ‘penghitungan suara’. Rekapitulasi pemberian suara dibedakan sebagai berikut: (1) 40 orang mahasiswa dihitung 1 suara, (2) 5 orang tenaga penunjang dihitung 1 suara, dan (3) 1 orang dosen dihitung 1 suara.
Hasil ‘pemungutan suara’ kemudian diverifikasi dalam ‘Sidang Paripurna Terbuka’ yang dipimpin Ketua MWA. Para calon rektor diberi kesempatan untuk memaparkan rencana strategis, program kerja 5 tahun ke depan, dan upaya pencapaiannya. Di Undana, dengan kriteria calon rektor yang amat cair, maka tidak jelas apa yang menjadi bahan pertimbangan dan keputusan yang diambil oleh para anggota senat Undana.

Ini urusan internal
Tanggapan para pejabat publik ketika dikritik umumnya langsung bersikap bertahan, dengan menutup diri, dengan menyatakan ‘ini urusan internal’ atau ‘biar kami selesaikan ke dalam’. Padahal institusi ini dibiayai dengan uang negara. Undana wajib mendengar pandangan publik. Kritik warga berhak mendapatkan tanggapan. Sayang sekali kalau lembaga pendidikan tinggi negeri tertua di NTT ini tidak dikelola dengan serius.

Proses pemilihan rektor perlu dikerjakan dengan sungguh-sungguh. Misalnya dengan menyampaikan pertanyaan reflektif: apakah cara pemilihan yang ada saat ini mampu menghasilkan pemimpin terbaik untuk institusi ini? Jika tidak, bagaimana alternatifnya? Apakah para anggota senat universitas mampu menangkap harapan publik terhadap Undana? Sebab kritik umum yang terdengar adalah tembok yang dipasang para pejabat Undana teramat tebal untuk mengakomodir kritik. Penhalang utama terkait dengan persoalan senioritas.

Kondisi ini pun bisa dimengerti, kalau kita memahami bahwa para dosen/peneliti di Undana pun tidak mampu mengusahakan satu sistem yang bisa memfasilitasi perbedaan ide diantara para akademisi di dalamnya. Konflik-konflik yang terjadi di dalamnya amat sulit mendapatkan jalan keluar. Terutama karena logika keliru bahwa ‘sinyal kritis’ itu satu paket dengan gelar ‘Doktor’. Sehingga sering ujung sebuah perdebatan cuma sampai pada kalimat ini: ‘kita sama-sama Doktor, jadi kau mau apa?’

Persoalannya bukan pada gelar, tetapi ‘gerak’ atau aksi yang dibuat dalam hidup sehari-harinya. Perdebatan terbuka yang bertumpu pada argumentasi dan pembahasan ide masih belum mendapatkan ruang di Undana. Hal ini semakin diperparah dengan selubung identitas baik etnis maupun agama.

Harapan Publik
Kita di NTT tidak terlalu repot dengan Pemilu Presiden 2009. Karena secara sistemik memang pengaruh politik dari warga yang tinggal di kepulauan yang tidak padat penduduk ini juga amat terbatas. Sehingga kalau kita tidak berpartisipasi aktif itu juga merupakan hal yang biasa. Hal yang sama juga dialamatkan pada pemilihan kepala daerah karena ‘kendaraan parpol’ juga jauh dari jangkauan kantong.

Namun jika pemilihan rektor Undana yang kurang pengaruh luarnya, tetapi tetap tidak mampu mencapai yang terbaik maka kita perlu bersama-sama bertanya: apa yang keliru? Karena mitos kita di NTT jika ada persoalan cenderung menyalahkan ‘orang luar’. Ditambah dengan tambahan identitas agama dan etnis maka lengkap bumbu konflik.

Atas dasar ini Undana yang di-isi sekian intelektual di dalamnya seharusnya mampu menghasilkan yang terbaik di era ini. Ketiadaan dialog kiritis egaliter di kampus disebabkan karena kita yang bersekolah tetap tidak mampu mengerti elemen pengetahuan, dan hanya berlaku sebagai konsumen pengetahuan. Kita bisa pakai HP tetapi tidak tahu cara kerja HP. Kita bisa mendirikan Universitas tetapi tidak mengerti prinsip dasar Universitas. Kita bisa bergelar tetapi tidak kritis. Kita bisa menulis tetapi tidak ada isi. Rantai ketergantungan ini semakin panjang.

Di sela proses ini jelas akal budi tidak bisa dimengerti dengan logika kuasa, baik yang berlabel senioritas hingga ancaman adu fisik. Setara dengan ini perlu disadari bahwa kita memang tidak bisa membeli sinyal kritis. Karena ini di luar logika ekonomi (jual-beli). Sehingga persoalan utama Undana bukan pada besar anggaran. Budi pekerti yang hilang dalam organisasi-organisasi moderen memang merisaukan. Tercatat begitu banyak akademisi di Undana, tetapi daya inovasi seolah ditelan tanah karang kering kerontang.

Selanjutnya sekedar mengingatkan, setiap sistem yang dikembangkan tentu memiliki kelemahan, maka tim Panitia Pemilihan Rektor di IPB pun menulis ini di blog: Saran, Masukan, atau Pengaduan mengenai PEMILIHAN REKTOR IPB TAHUN 2007-2012 dapat disampaikan melalui: SMS ketik IPB BpprSARAN kirim ke 9333.

Sedangkan di Undana selama sinyalnya belum ada tak mungkin bisa menerima SMS. Mungkin humor di atas membantu.

*Penulis anggota Forum Academia NTT

Author: Elcid

He is a social researcher from Timor.

One thought on “Sinyal Rektor Undana

  1. I like this writing…you are veri critisize person. Hope you are one of the Young Lecturer in Undana, Kupang. I,m timorese and I wish the best for Undana. I hope in the future…. the election of University Presiden will be more open and more fair and more rationale….. I just concern with the leadership in NTT and it, smany complicated problem there. Hope you will be one of the leader in University…keep fighting for the competence…………don,t worry to do the best…and fair…….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s