Tenun Kata

Jika kata bukan lah hujan untuk tanah, sudah pasti itu hanya kuburan yang pindah tempat


Leave a comment

Blog Tinneke Carmen


Sebuah telur pecah lagi–di kepala saya. Kali ini dari Tinneke Carmen yang biasa dipanggil Tina, salah seorang penulis, rekan di forum academia NTT, yang kini masih bekerja di Liputan6.com website milik SCTV, sebuah stasiun TV swasta, di Indonesia.

Buku ini merupakan kumpulan tulisan yang ia kerjakan selama kurang dua tahun di sela-sela kerjanya sebagai editor. Jejak awal tulisan pada tahun 2004, merupakan tanda kehadiran dunia bloggers Indonesia. Selama waktu bergulir selama itu pula tulisan-tulisannya mengalir, dan membentuk danau buku.

Kenapa judulnya Blog Tinneke Carmen? Ia menjawab singkat, “Ini kumpulan tulisan beta di blog.” Ringkasnya, buku ini merupakan catatan atas hidupnya. Ketika ditanya, buku ini berkisah tentang apa, ia hanya memberi satu kalimat, “Tulisan Pak Polisi ada di situ.”

Memang, Bapaknya adalah seorang polisi.

Tulisan ini dulu ia bacakan sambil menangis, sesaat sebelum pemakaman Bapaknya, yang meninggal satu tahun lalu di Kupang. Gambaran tentang polisi ideal, dan profil hidup seorang Bapak yang polisi hadir menyilang dalam tulisan.

Penulis yang hadir sebagai pelayat waktu itu hanya bisa diam diantara para polisi dan juga para purnawirawan polisi yang diam mendengar penulis membaca tulisan itu. Siapa sangka ziarah hidup sang Bapak yang polisi itu bisa ditelusuri. ‘Anak asrama’ menulis buku, siapa sangka?

Di Kupang tenda duka, biasanya adalah tenda tawa juga. Sebab itu jangan heran dalam tenda duka itu para purnawirawan polisi lain saling bertemu dan bertukar tawa dan pe’e gigi alias ketawa ‘besar-besar’. Sebab semakin hari dalam hitungan matematis yang ada adalah semakin berkurang, dan yang lainnya membatu menjadi nostalgia. Dalam pertemuan para purnawirawan polisi, dan lewat tawa mereka berbisik, “Sapa lagi punya giliran bikin tenda?” atau, “sapa lagi yang akan jalan duluan?”

Dua kalimat tanya ini mewakili fase ketiga dalam hidup: lahir, menikah, dan mati. Ketiga titik waktu yang selalu dirayakan dalam tradisi dan kultur mana saja. Ya, Albertina S. Calemens., memang merayakan itu dan kado untuk akhir untuk Pak Polisi.

Dan, amat jarang seorang anak menulis tentang orang tuanya, serta dibingkai khusus menjelang pemakaman. Sebab memang sedikit, ada anak yang mampu kembali pada titik waktu kecil dan berdialog dengan apa saja yang telah terjadi. Sederhananya, semua orang bisa pergi, tapi tidak semua bisa kembali.

Keping tulisan Pak Polisi, obituari seorang anak atas bapaknya, menjadi salah satu gugus kata dalam buku ini. Sejak Bulan April 2006, bukunya, terbitan Gradiens Book Jogja, sudah bertengger di jejeran rak buku dua toko besar ternama di Indonesia, sebut saja Gramedia dan Gunung Agung.

Jadi, kita boleh berharap Toko Buku Gramedia di Kupang sudah menyediakannya juga sehingga jejak penulis-penulis muda Flobamora, akronim dari beberapa pulau besari di NTT , ini tidak terputus. Tulisan ini merayakan kelahiran sebuah buku, telur yang pecah, yang dibuat Tina. Satu tahun sudah buku itu sudah diterbitkan. Ini adalah ulang tahunnya yang pertama. Siapa menyusul? (EL)

Advertisements


1 Comment

Kisah memberi nama


Ceritanya satu kelompok anak muda di forum academia ntt, sebuah mailing list, mencoba mencari nama untuk web atau blog bersama.

Ternyata sulit sekali menemukan satu kata yang mewakili NTT. Dalam pengertian yang dalam, sulit sekali menemukan satu kata yang mewakili budaya NTT. Secara administratif memang jalinan pulau ini punya rantai birokrasi, sedangkan kultur bersama hampir dapat dikatakan orang NTT masing-masih hidup dalam rumah budayanya masing-masing, tanpa saling tahu, rumah budaya yang lainnya.

Rumah budaya itu batasnya adalah bahasa. Misalnya idiom-idiom yang dikenal Orang Kupang, tidak dikenal oleh orang di Manggarai misalnya. Atau idiom yang dikenal Orang Rote tidak diketahui Orang Alor yang tidak pernah ke Kupang. Atau idiom dari Orang Solor tidak diketahui oleh Orang Sumba.

Kondisi kepulauan mungkin salah satu sebabnya.

Dan, kalau mau dilihat lebih jauh lagi, para intelektual NTT umumnya hanya mengetahui rumah budaya dirinya sendiri, sedangkan kalau berusaha mencari irisan budaya NTT, maka akan langsung teringat pada idiom-idiom Berbahasa Indonesia.

Secara khusus, simbol-simbol budaya NTT itu cukup kaya, tapi tidak cukup baik dikuasai oleh anak-anak mudanya. Memikirkan nama blog/web, di satu sisi mengingatkan bahwa modal budaya kita ternyata cukup minim. Karena hampir tidak ada kata yang menjadi tempat bertemu sekian rumah budaya di NTT.

Apa sih budaya asli populer NTT? Pertanyaan ini muncul sejenak. Meneropong lebih jauh, hampir sulit sekali untuk menemukannya. Kalau tidak muncul istilah pemerintahan, maka muncul istilah keagamaan. Tapi budaya yang melintasi itu tidak ada. Jadi minim sekali budaya yang melintasi beragam etnis di NTT. Maka jangan heran…kalau situasi kita memang terkotak-kotak, atau pun terpisah.

Budaya ini penting, karena secara sukarela orang bertemu dengan orang dari mana saja. Yang terjadi, bisa dikatakan interaksi antar budaya di NTT bisa dikatakan cukup minim. Jadi nama NTT memang lebih ada karena alasan administratif sebenarnya. Timor menjadi nama lain yang kuat, karena sebelum menjadi NTT di tahun 1958—dan bagian dari Sunda Kecil (nama yang diberikan M.Yamin). Nama Residen Timor lah nama yang dipakai Belanda. Maka jangan heran orang Alor pung dikenal dengan nama Orang Timor. Timor itu nama residen. Kalau etnis bisa disebut ‘Orang Dawan’, atau yang lainnya.

Terasa sekali kalau kita jarang bertamu dan hidup dalam budaya yang berbeda. Artinya kita bisa menyebut ama, moat, enu, eja, kraeng, umbu, rambu, ina, dan sebutan pendek lainnya. Tapi tidak lebih dari itu, berhentinya cuma sampai pada makian.

Pengalaman tinggal di Jogja, mengingatkan beta, dengan mudah mencari idiom bersama untuk orang Jogja. Misalnya: Angkringan, atau juga yang dikenal dengan warung koboi, sego kucing, atau HIK Solo—Hidangan Istimewa Kampung, atau apa saja. Ini kita belum masuk dalam budaya populer lain, seperti wayang, dan lainnya.

Ini menjadi pertanyaan tersendiri juga, karena coba kita lihat teater di NTT itu mati. Dulu di era Belanda, malah ada beberapa kelompok.

Nah, kalau Kupang banyak sekali, dengan gampang kita temukan. Tapi coba cari satu idiom popular yang mewakili orang NTT. Saya tiba di jalan buntu. Terasa silang budaya antara berbagai rumah budaya di NTT masih kurang terjadi. Kalau pun ada itu formal, dan tidak bisa melintasi.

Budaya pop anak muda pun sama. Semuanya mengekor lagu pop Jakarta. Tidak mampu mengembangkan budaya pop khas NTT. Mungkin ini yang tidak ada. Kenapa ya?

Ya, kita masih harus mencari. Atau apa ada yang sudah menemukan?


Leave a comment

Surat Untuk Jarar Siahaan di Balige


Surat ini dikirim untuk Jarar Siahaan yang membuat Blog Batak.New.Com, dia menulis surat untuk AJI, dan lainnya, isinya protes, dan ringkasnya begini:

Jangan kalian “rusak” para jurnalis pemula dengan kampanye tolak-amplop. Yang harus dilakukan AJI adalah mendesak semua media agar menggaji wartawannya dengan layak. AJI harus berani menggalang semua wartawan untuk mogok kerja. Setelah itu terpenuhi, barulah “sikat” wartawan yang menerima amplop. Dan sebelum media memberi gaji layak, hentikan kampanye tolak-amplop. Jangan sampai ada [lagi] wartawan yang lugu mengorbankan anak-istrinya demi paham yang kalian ciptakan.

Abang dan kakak jangan dong berpura-pura buta; hampir semua koran daerah tak menggaji wartawannya dengan layak. Sebagian besar di bawah Rp 1 juta, itu pun cuma bagi wartawan yang bertugas di ibukota provinsi; sementara di kabupaten umumnya tidak digaji. Juga banyak media nasional yang tak menggaji wartawannya di daerah dengan layak. Aku mau bertanya: begitu banyak anggota AJI di seluruh provinsi dan bekerja di koran lokal, apa penjelasan yang masuk akal bahwa mereka tidak terima amplop? Oh Tuhan, alangkah kita — kau dan aku — sudah lama berbohong.

Berikut ini sebuah surat yang beta kirimkan untuk dia, sesama wartawan daerah.

Horas Lae,

Sulit memang menentukkan mana yang harus didahulukan, apakah kampanye anti amplop ataukah kampanye agar pers daerah menggaji wartawan dengan layak. Tapi beta menghargai posisimu. Beta sendiri meskipun kadang minyak goreng tak terbeli, beta kembalikan uangnya. Meskipun hingga hari ini tidak ada kursi di ruang tamu, kukembalikan uang juga. Rumah juga masih kontrak alias menumpang. Yang marah bukan cuma yang memberi, kawan wartawan juga marah. Sebagian lebih sopan, menerima dan minta redaksi mengirim balik.

Beta beberapa tahun kerja di Kupang, Timor dan NTT dan sekitarnya, sebagai dosen untuk jurnalisme investigasi dan wartawan TV . Hampir semua wartawan menganggap amplop adalah hal biasa. Kadang kalau beta tidak ambil, ada kawan bilang ‘kalo lu sonde (tidak) butuh biar beta ambil saja…beta punya anak butuh untuk sekolah, dan beta silahkan dia tanda tangan pakai nama beta.’ Realistis, dia butuh. Tapi dalam sikap yang lain, beta juga ingin teman2 wartawan tahu, bahwa ada juga yang melawan arus. Karena memang harus ada yang gila.

Sekali kuterima amplop, ini dari seorang bupati, ini kerja sampingan sebenarnya dan tidak ada urusannya dengan profesi wartawan, hanya bikin profil daerahnya yang rawan bencana untuk sebuah LSM, intinya ini kampanye supaya masyarakat siap menghadapi tsunami. Tapi apa pun itu aku tak mau ada utang budi. Uang aku terima dan berikan untuk biaya sekolah seorang siswa yang membutuhkan.

Suratmu yang dikirimkan ke AJI dll memang perlu untuk menampar orang pusat, supaya tidak asal ngomong dan pintar bikin slogan. Beta hargai itu, karena realitasnya orang pusat yang biasa jalan-jalan ke daerah memang beda gajinya. Sejauh yang beta tahu, banyak wartawan yang kerja double, entah apa saja dibuat. Tapi bukan cuma orang pusat juga, ada seorang kawan yang kerja di koran ternama di Jakarta, bingung luar biasa karena tidak ada uang untuk sekolahkan anaknya Bulan Juli nanti. Bagaimana bisa begini, idealis dalam kelaparan?

Ya, kita harus berakrobat untuk hidup. Beta sepakat, dan kita harus kreatif. Urusan kere atau hidup susah bukan cuma urusan wartawan, kita wartawan masih jauh lebih baik dibandingkan rakyat jelata yang lain. Ini yang beta bilang. Di Kupang gaji pembantu rumah tangga itu 75 ribu rupiah per bulan, dan ini biasa. Wartawan daerah sekitar 500 ribu atau 600 ribu.

Jadi, untuk urusan ekonomi, menurut beta bukan cuma urusan perusahaan dan karyawan, tapi ada di luar itu. Kalau dipaksakan perusahaan juga bangkrut, dan ini sudah terbukti di daerah, khususnya di Kupang. Bagaimana mau menggaji layak? Modal pas-passan.

Mungkin beta buta. Tapi urusan deal para petinggi media di level atas itu memang terjadi. Tapi siapa berani membukanya? Siapa yang mampu menginvestigasi? Kisah amplop ini sebenarnya mirip berselingkuh atau tindakan asusila. Kalau rakyat jelata lihat porno sedikit sudah diarak telanjang keliling kampung, tapi orang kaya bisa pesta seks di hotel tanpa takut ketahuan. Siapa yang mau lapor? Prostitusi media yang terjadi di Jakarta harus diberantas. Caranya bagaimana? Beta tidak tahu. Soalnya petinggi media di Jakarta, cuma tinggal bilang, “Kau mau melawan? Aku pecat…masih banyak yang butuh kerja!” Seribu sumpah serapah dan segala nama hewan kita umpatkan, tapi sama saja. Banyak yang realistis, dan menerima kerja dari perusahaan pimpinan maling. Ini beta alami, “Masih banyak kok yang butuh kerjaan!” Sakit hati juga diperlakukan begitu oleh sesama wartawan. Apa mereka tidak pernah merasa ada di bawah? Beta tidak mengerti. Kok tega?

Dia bisa bilang, ‘Kalau aku tidak jadi anjing herder untuk perusahaan aku bisa dipecat, jadi aku harus kejam sama bawahan…apalagi yang perintahkan ini bos.’ Ini terjadi, coba lihat di setiap media ada anjingnya yang siap ikut perintah bos. Kebetulan kali itu, anjing di media itu orang batak. Lain tempat lagi anjingnya orang Timor, lain tempat lagi ada Orang Jawa. Jadi tergantung bosnya, biasa bos memilih anjing dari etnis lain. Entah kenapa? Belum ada penelitian.

Jadi Lae, beta sepakat bahwa Lae sudah berteriak. Dan kita yang lain juga berteriak dengan cara yang lain, dengan menolak amplop, agar bisa sebebas-bebasnya meliput berita dengan nurani. Pasti tidak mudah, dan memang tidak mudah.

Hari ini melihat beberapa mahasiswa ada yang sukses jadi wartawan televisi beta senang, ada yang harus jadi tim media kampanye bupati, beta juga senang. Ada yang nganggur, beta sedih. Tapi kerja di perusahaan yang gajinya kecil bagaimana? Apa itu lebih baik daripada tidak bekerja?

Ini mengingatkan beta, ketika masih di kelas, dan beta jadikan suatu soal, berkaitan dengan amplop. Ada yang menolak, ada yang menerima. Aktivis mahasiswa dan seorang suster menerima dengan alasan butuh. Sebagai dosen beta sempat diam lama, dan tidak mengerti. Tapi rasanya kemiskinan di NTT sudah sampai pada ujungnya. Sehingga yang semua yang baik cuma ada dalam doa, sedangkan untuk kebaikan dalam hidup sehari-hari masih harus diperjuangkan, dan dikerjakan.

Beta sudah sampai pada titik bertanya yang meminta jawaban, dan sejak tahun lalu beta belajar Sosiologi, karena beta tidak mengerti kenapa kita harus hidup dalam derita yang berlarut. Mudah-mudahan akan ada jawaban, bahwa meskipun miskin kita punya harga diri. Ini bukan cuma hidup, ini perjuangan menjadi manusia.

Sampai hari ini beta percaya ini bukan cuma persoalan wartawan, tapi kemiskinan ini masalah kita dalam negara Indonesia. Jadi kalau menerima amplop itu berpengaruh pada kemiskinan kita bersama, maka amplop jelas bermasalah. Masalahnya media sekarang memang posisinya sebagai mesin uang. Coba lihat Kompas dan televisi lain, sebenarnya mereka tidak butuh suara wartawan, karena pemasukkan dari iklan sudah menutupi biaya operasional, wajar kalau pemred di Kompas dan semua bos-bos televisi itu semena-mena sama anak buahnya. Mau protes? Sama, seperti di atas, tinggal ganti.

Sialan meman Lae, tapi ini kenyataan. Dulu beta sempat tulis surat untuk Mochtar Lubis, dan tanya macam-macam dia sempat bilang, bahwa dia tidak punya mimpi untuk wartawan Indonesia. Dulu beta pikir bahwa itu cuma bahasa orang tua yang pesimis, tapi sekarang beta lihat Mochtar Lubis memang realistis. Dan beta tanya lagi, apa yang bisa kita buat kalau semua sudah kita coba dan tidak ada jalan keluarnya. Dia menulis bahwa kita berdoa dan senangkan hati. Jadi cuma itu Lae, semoga kita semua tetap senang dalam situasi sulit.

Salam selalu,
Elcid