Tenun Kata

Jika kata bukan lah hujan untuk tanah, sudah pasti itu hanya kuburan yang pindah tempat

Guru Terlunta-lunta

Leave a comment


tulisan ini cuma ‘keluhan’ dalam program ‘Taputar Kota’ yang disiarkan di sebuah radio swasta di Kupang, NTT, yang sedang membahas tentang merananya guru kita. cuma itu.

Salah satu kegagalan negara ini dalam menyongsong masa depan adalah melupakan aspek pendidikan. Salah satu cerminnya adalah dengan membiarkan para guru terlunta-lunta. Jika bicara soal guru, tentu kita bukan cuma bicara soal guru di sekolah swasta atau negeri yang ternama di kota Kupang, tapi kita juga bicara soal nasib guru kontrak di pedalaman NTT.

Bicara soal gaji yang terlambat itu soal biasa bagi para guru kontrak. Dengan gaji yang kecil dan tidak seberapa, maka bisa dibayangkan bagaimana kualitas pendidikan yang diharapkan. Mereka harus bekerja ganda, menjadi tukang ojek, memberi les privat, berdagang buku pelajaran, dan lainnya.

Dengan beban hidup yang menghimpit, bagaimana kita bisa berharap para guru masih sempat berpikir untuk meningkatkan pengetahuan, misalnya dengan membeli buku atau meneruskan studi ke tingkat lanjut? Jujur saja, tidak banyak guru yang sempat membayangkan hal-hal semacam ini. Walaupun sebagian besar pasti sangat ingin.

Tragedi kehidupan para guru cukup membekas. Buktinya, coba tanyakan pada anak-anak para guru, “Apakah berniat menjadi guru?” Rasanya sebagian besar akan menjawab tidak, karena mereka memahami tidak sepadannya beban kerja dengan upah yang diterima.

Guru adalah bagian penting dari sistem pendidikan kita, selama kita tidak bersungguh-sungguh membenahi sektor pendidikan kita maka jangan mimpi kita bisa bangun dari krisis ini.

India misalnya, sangat sungguh-sungguh membenahi sektor pendidikan mereka. Pendidikan menjadi urat nadi mereka. Buktinya, Di Kerala, salah satu Provinsi termaju di India, di tahun 1945, mereka memiliki 47 perpustakaan yang tersebar di daerah pinggiran, dan sekarang ini mereka memiliki 6000 perpustakaan. Dengan kenyataan ini, tidak heran jika India maju pesat.

Padahal di tahun 1955, pemimpin India Pandit Jawaharlal Nehru masih bersama-sama dengan Presiden pertama kita Sukarno di Bandung. Kini India jauh berlari di depan kita. India dan Cina jelas membuktikan bahwa jumlah penduduk yang besar bukan menjadi alasan untuk tidak becus menjalankan negara. Mereka membalikkan semua itu, dan malah dengan lantang menyerukan ‘Gajah pun bisa berlari sangat cepat’.

Kita pun bisa. Sayangnya kita tidak menghargai pendidikan, pengetahuan, dan lebih celaka lagi, membiarkan para guru terlunta-lunta. Jadi persoalannya bukan cuma soal kesejahtraan guru, tetapi tidak ada penghargaan terhadap dunia pendidikan itu sendiri.

Singkatnya, melalaikan kesejahtraan guru, sama artinya arti dengan membusukkan sistem pendidikan itu sendiri, dan sama artinya dengan melupakan masa depan. Padahal bagi negara yang berdaulat, harga diri jelas juga diukur dari tingkat pemikiran yang berkembang di negara itu sendiri. Lalu bagaimana dengan kita yang selalu saja melupakan para guru? Jelas kita mundur kembali ke alam penjajahan yang selalu kalah dan dibodohi, karena kita tidak mampu bersaing dengan negara-negara lain. Kita hanya akan menjadi pelengkap penderita, hanya akan menjadi negara terbesar pengirim pembantu rumah tangga ke luar negeri, dan tukang utang. Kita harus malu.

Author: Elcid

He is a social researcher from Timor.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s