Tenun Kata

Jika kata bukan lah hujan untuk tanah, sudah pasti itu hanya kuburan yang pindah tempat

Herb Feith yang Biasa Saja!

1 Comment


*Catatan tentang Indonesianis

Kepergian Daniel S.Lev baru-baru ini, salah seorang Indonesianis terkemuka dari Amerika Serikat, mengingatkan saya kepada para pencatat sejarah Indonesia lainnya: Herb Feith, seorang Indonesianis yang telah lebih dahulu pergi. Keduanya hampir sama dalam hidup, yakni bersahaja, akrab dengan situasi hidup orang biasa di Indonesia, sehingga ketika bertutur pun tidak berjarak. Tulisan tentang kepergian Daniel S.Lev, tersebar di berbagai surat kabar nasional baru-baru ini, dan dari para penulis yang pernah bersentuhan dengan Daniel S. Lev saya mencoba mencari kesan. Sehingga dalam tulisan kali ini, sosok Herb Feith lah yang akan diulas sebagai bagian dari kepingan ingatan.

Kepergian Indonesianis, sebutan untuk para ilmuwan asing yang telah menjadi “Orang Indonesia”, memang meninggalkan kesedihan. Karena para musafir ini pergi jauh dari negeri asal dan hidup di Indonesia dan menyatu di sini telah menjadi bagian dari sejarah kita. Memang sejak jaman pelayaran yang terjadi berabad-abad silam orang kulit putih sudah masuk ke Nusantara, dan masih berlangsung hingga kini antara lain sebagai pekerja LSM Internasional, penanam modal, pastor/pendeta, atau sebagai backpacker, turis hemat beransel. Tetapi orang-orang ini meskipun berdiam sekian lama di sini dan keluar-masuk Indonesia, tetap tidak disebut Indonesianis. Indonesianis adalah sahabat dalam arti yang sebenarnya, karena tidak berjarak. Mereka sama saja dengan kita, risau memikirkan ke mana Indonesia akan pergi.

Murah Hati
Empat tahun yang lalu, Herb Feith, Indonesianis berkewarganegaraan Australia juga telah pergi untuk selamanya. Dia yang menjadi tempat bertanya para pemuda; dia yang tak pernah merasa terlalu tua untuk mendengar dan mengajar, meninggalkan kenangan manis untuk bangsa ini. Bagi para pemuda: para aktivis, nama ‘Pak Herb’ identik dengan seorang rekan bicara yang mudah memberi ilmu di ruang-ruang diskusi gratis di mana pun.

Sering kali tanpa sadar saya membandingkan apa yang dilakukan Herb dengan para intelektual Indonesia di perguruan tinggi. Begitu berbeda. Herb begitu rendah hati, dan tidak tergiur dengan gemerlapnya kekuasaan dan materi. Bandingkan dengan para intelektual kampus yang beralih menjadi pemain-pemain politik atau selebritis, sehingga sering kali kita dibuat bingung apakah yang mereka mainkan itu sirkus politik atau entah lah?

Saat ini di Indonesia cukup sulit menemukan figur intelektual yang melaksanakan ‘politik hati nurani’–meminjam istilah yang dipakai almarhum Romo Mangun tentang motivasi politik yang seharusnya. Jika tak yakin, coba lah tengok dan hitung berapa banyak intelektual produk universitas yang saat ini duduk manis di lingkaran kekuasaan sambil menjalankan kompromi-kompromi politik rumit tingkat tinggi! Coba lah hitung berapa yang setia untuk vokal demi rakyat kita (juga tanpa embel-embel)!

Herb tak pernah merasa tua, dengan sepeda tua, batik lusuh dan tas coklat di tempat jok belakang sepeda onthel. Dulu, setiap hari ia mengayuh pedalnya ke mana saja di daerah Yogya untuk mengajar, menghadiri seminar, mengunjungi kenalan atau berbelanja pisang.

Di umurnya itu ia masih terhitung sehat, ingatan dan analisisnya masih baik. Ia hidup dengan teratur. Biasanya sekitar jam dua pagi Herb bangun dan mulai membaca dan menuliskan catatan pada kertas kecil, lalu beberapa jam kemudian ia pun tidur. Dan, saat fajar keluar ia sudah berlari di sekitar daerah Bulak Sumur, sekitar kampus UGM.

Singkatnya ia tak pernah merasa tua untuk belajar dan mendengarkan. Pada akhir bulan Oktober 2001, dalam pertemuan terakhir kami, Herb, pengagum Gandhi, mengaku ia sedang aktif berlatih yoga.

Tinggal beberapa purnama bersamanya meninggalkan banyak kenangan. Herb bagi banyak orang telah menjadi sumber inspirasi dan ensiklopedi berjalan dalam menelaah Indonesia. Seperti misalnya bagaimana ia menjawab soal Soe Hok Gie, Amir, Sjahrir dan referensi tertulis yang terkait dengan subyek ini. Seolah kejadiannya baru kemarin.

Di sebuah rumah, di kawasan Bulak Sumur, Herb menerima tamu dari berbagai kalangan mulai dari anak SMA, mahasiswa S-1, pasca sarjana, dosen, peneliti, wartawan, aktivis LSM, pejuang perdamaian, dan lainnya. Semua diladeni sama. Tak jarang ia mengundang kenalannya untuk untuk makan bersama. Hidangan sederhana, masakan khas Jawa Tengah karena yang masak simbok dari Jogja, dan disertai diskusi adalah potret kesehariannya.

Sebelum “kepulangannya” ke Australia di tahun 1999, ia menyumbangkan buku-bukunya ke sejumlah perpustakaan di Yogyakarta, diantaranya ke Kolese Santo Ignatius dan Pusat Studi Kependudukan agar dapat dibaca dan dimanfaatkan oleh banyak kalangan. Bandingkan dengan sikap para peneliti—entah dari universitas, lembaga penelitian, dan LSM mana saja–yang sekedar menjadikan orang Indonesia sebagai obyek, yang hanya datang dan meneliti dan tidak merasa berkewajiban menyumbangkan buku atau hasil kajian ke universitas atau perpustakaan umum. Lebih parah lagi, LSM di sini dengan bantuan asing yang rajin membuat report ke lembaga funding dengan data dan kajian aktual terkini, tapi amat pelit berbagi informasi ke masyarakat sendiri dan menjadi eksklusif.

Saksi mata
Komitmen Herb pada kemanusiaan ditunjukannya dengan memperhatikan hal-hal yang sering kali terbaikan oleh banyak mata. Seperti memberikan uang tambahan untuk tukang becak dan tukang tambal ban sepeda langganannya di ujung jalan rumah; menampung sebuah keluarga asal Timor Timur karena diintimidasi pasca jajak pendapat.

Simpatinya terhadap para korban kekerasan ini terkait dengan suasana masa kecilnya dulu, saat ia bersama ayah dan ibunya yang keturunan Yahudi itu harus pergi dari Austria, mengungsi ke Australia karena kekejaman NAZI. Tragedi kemanusiaan ini memang masih lekat dalam ingatan, sebab pernah sekali kami menonton film Life is beautiful, sebuah film yang mengisahkan perjalanan hidup seorang bocah yang luput dari maut di camp konsentrasi, karena rasa cinta ayahnya yang menjaganya dengan rasa humor yang tak kunjung putus. Usai menonton Herb lama termenung. Ia menangis di beranda belakang. Tak sanggup berbicara untuk beberapa lama.

Sejarah kekerasan memang menghampirinya berulang kali. Herb adalah satu dari dua Indonesianis—seorang lagi Benedict Anderson–yang mengikuti persidangan para tahanan politik PKI yang banyak dihukum mati dan diperlakukan tak adil di penghujung tahun 1960-an.

Dalam sebuah tulisan mengenang Herb, Arief Budiman menyayangkan , setelah menulis karyanya, The Decline of Constitutional Democracy in Indonesia, yang telah menjadi bacaan wajib itu itu Herb Feith tak menghasilkan karya monumentalnya lagi. Namun pertanyaan yang setara dengan pernyataan itu, adakah yang dapat menghitung berapa banyak orang yang terpengaruh oleh Herb dengan pandangan-pandangannya, cara hidupnya dan sikapnya dalam kehidupan sehari-hari? Berapa banyak Indonesianis baru yang merupakan murid Herb? Berapa banyak orang Indonesia yang menjadi murid dan sahabatnya?

Memang banyak orang yang menyayangkan bahwa Herb tidak lagi menghasilkan karya penulisan gemilang lagi. Tetapi menurut saya Herb sendiri beralih untuk tidak hanya menjadi penulis atau seorang ilmuwan yang menganalisis masalah-masalah politik, ia telah menulis dengan cara lain, dengan sikap dan tindakan.

Atau, ia tak ingin teori-teori politiknya dipakai sebagai pembenaran atas praksis politik para politikus Indonesia, seperti yang terjadi sekarang ini. Di sini dosen-dosen fakultas ilmu sosial dan ilmu politik dari berbagai universitas ramai-ramai turun gelanggang dengan membawa teori-teori yang dibawanya dari universitas-universitas luar negeri. Sehingga seolah-olah masyarakat telah menjadi laboratorium percobaan teori-teori sosial terbaru yang dibuat dari lokasi, dan situasi yang ada di nun jauh di sana.

Memang ada yang belum sempat ditulis dan dikatakan Herb sebelum ia pergi, misalnya soal pengamatannya terhadapa apa yang terjadi dalam beberapa tahun menjelang tahun 1970–dan pandangan orisinilnya tentang Soekarno. Jika koleganya Benedict Anderson menuliskan tragedi 1965 dalam tulisan yang terkenal dengan nama cornell paper, maka Herb tetap menyimpannya.

Sayang memang, ketika rencanannya bersama Parakitri Tahi Simbolon untuk menyelesaikan sebuah buku tak terlaksana. Jika itu terlaksana, rasanya tulisan itu mungkin akan semakin membuka patahan sejarah Indonesia yang memang masih gelap.
Seperti ketika menjelang kepergiannya ke Australia di tahun 1999, ia menolak ketika saya menyebutkan kata pulang. “Pulang?” tanyanya. Saya lupa, seorang sahabat hanya mengenal kata pergi.

Di pertemuan terakhir, beberapa minggu menjelang ajal, Herb menolak untuk diwawancarai–padahal sebelumnya ia telah menyetujui, dan malah berjanji akan kembali ke Indonesia di Bulan Februari 2002. Tapi itu tidak pernah terjadi, sejak kecelakaan yang menimpanya di Melbourne pada tanggal 15 November 2001, atau sekitar dua minggu setelah pertemuan kami.

Andaikan mendapatkan kesempatan untuk wawancara, saya ingin bertanya banyak sekali, tetapi Herb memilih untuk menyimpannya. Atau, mungkin ia ingin agar saya belajar menjawab pertanyaan-pertanyaan yang saya buat, bukan hanya sebagai jurnalis tetapi sebagai peneliti.

Tentang Herb, tulisan George McT Kahin di kata pengantar buku Herb di tanggal 2 Agustus 1962 mencerminkan apa itu watak Indonesianis: Those who know Herbert Feith will be aware that his interest in Indonesia is not merely academic and that he has profound a personal affection for the country and its people. It might therefore be appropriate to mention that I believe his study constitutes a good example of the maxim that a scholar best serves such friendship through frankness of exposition and objectivity of appraisal. Menurut saya, tulisan Kahin tidak berlebihan, dan banyak sisi hidup yang amat orisinil dari Herb yang tidak diketahui oleh orang lain, yang dibiarkannya menjadi miliknya seorang.

Kepergian Indonesianis adalah sebuah kehilangan, karena kita masih membutuhkan lebih banyak lagi Indonesianis, sahabat sejati. Herb, Daniel, dan Indonesianis lainnya yang telah berpulang, tak ada bendera merah putih setengah tiang yang kami naikan untuk anda, namun percayalah banyak dari kami yang menangis diam-diam, mengenang kepergian para sahabat. Figur intelektual dengan sikap dan kesederhanaannya sungguh sulit dicari di Indonesia, di negeri yang dicintai sejak muda.

Ingatan tentang para Indonesianis “yang biasa saja” ini membawa saya kepada sebuah pertanyaan dari seorang sahabat dari Jawa yang kental dengan pendidikan Eropa bertanya, “Kenapa orang Timur (maksudnya dari Flores, Rote, Timor, Ambon, Menado, Papua) itu kalau menjadi intelektual selalu berubah menjadi Barat (maksudnya Eropa atau Amerika)?” Pertanyaan ini tidak dapat saya jawab. Mungkin ia tidak bermaksud menyebut deretan etnis ini, mungkin maksudnya kenapa tidak biasa-biasa saja? Mengingat Herb, dan barat yang mungkin ia maksud membuat saya diam dan tersenyum. Mungkin juga sekarang menjadi biasa itu sesuatu yang luar biasa. Mungkin begitu Pak Herb! Saya rasa anda pasti tersenyum dan mengangguk-anggukan kepala, dan kemudian tertawa sambil mengatakan, “Mungkin, ya mungkin….”

Kupang-Birmingham, 2002-2007

karangan ini sudah berumur lima tahun lalu dan baru berkesempatan dan dibiarkan untuk dibaca.

Author: Elcid

He is a social researcher from Timor.

One thought on “Herb Feith yang Biasa Saja!

  1. Pingback: cynthaside.net » keJar mimpi [part 2]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s